Impor Bawang Makin Masif, Harga Bawang Semakin Tinggi

Impor Bawang Makin Masif, Harga Bawang Semakin  Tinggi

Jakarta, Lawan.id – Harga bawang putih di tingkat konsumen masih cukup tinggi meski izin impor bawang putih telah dikeluarkan. Harga bawang putih di tingkat pengecer bisa mencapai Rp 40 ribu per kg.

Sedangkan Mengutip data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga komoditas bawang putih ukuran sedang berada per 23 Februari 2018 terpantau sekitar Rp 31.100 per kilogram (kg), sementara per 22 maret 2018., harga bawang putih telah meningkat di kisaran Rp 34.450 kg.

Tingginya harga bawang menjadi sorotan masyarakat, Direktur Eksekutif Institute fo Development of Economics and Finance ( Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, saat ini lebih dari 50 persen kebutuhan bawang putih di dalam negeri dipenuhi dari impor. Meski impor bawang putih diterapkan tanpa menggunakan skema kuota, namun dinilai belum mampu membuat harga komoditas tersebut stabil.

“Kebutuhan kita impor, lebih dari 50 persen, bahkan 70 persen ketika tidak panen. Kalau dengan kuota ini yang menyebabkan kelangkaan, karena kongkalikong saja sudah pasti barang langka. Tapi ini saya tidak mengerti penyebab harganya tidak turun apa,” kata Enny dalam keterangannya, Kamis (22/3/2018).

Enny Sri Hartati meminta pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan impor bawang putih. Pasalnya, impor bawang putih yang dilakukan belum mampu membantu menurunkan harga komoditas tersebut di pasaran. Pemerintah harus melusuri secara serius penyebab dari tingginya harga bawang putih di pasaran. Dia melanjutkan, jika memang murni karena permintaannya meningkat, maka suplainya harus ditambah.

“Akan tetapi yang pasti ini terkait demand dan supply. Kalau ada kenaikan berarti kekurangan di suplai, ini yang harus ditelusuri. Kalau misalnya sistem masih dengan kuota salah satu penyebabnya itu, tapi kalau dengan tarif, mungkin izin impornya yang terlambat. Atau mungkin proses dikarantina lebih lama,” jelas dia.

Selain itu, tambah Enny, dengan keterbatasan produksi bawang putih di dalam negeri, saat ini importasi menjadi satu-satunya jalan keluar agar pasokan dan harga tetap terjaga. Meski begitu, Enny berharap impor yang dilakukan tidak sampai membuat petani bawang putih lokal rugi.

“Impor sebenarnya tidak apa-apa asal tidak mengganggu petani kita. Untuk bawang putih porsi impor memang masih besar, karena itu hanya bisa diproduksi di dataran tinggi. Dan itu sudah lama kita impor,” pungkas dia.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat ditemui di pabrik Belfoods Jonggol, Kabupaten Bogor, Kamis (22/3) sore. Dalam waktu dekat akan memonitor seluruh importir. Mereka juga akan diundang untuk memastikan kapan masuknya bawang impor ke Indonesia.

Monitoring, kata dia, dilakukan karena pemerintah sangat selektif. Contohnya pada kasus importir yang mengimpor bibit namun justru memasukkan bawang putih konsumsi. Dengan tegas, Kemendag mencabut Angka Pengenal Importir (API) milik mereka.

Enggar menambahkan, ada kewajiban pengusaha untuk melaporkan keberadaan gudang dan stok yang dimiliki.”Makanya sekarang kita minta oleh Dirjen Daglu (perdagangan luar negeri; red) untuk minta laporan gudang dan stok dimana,” kata dia.

Baca Juga : MINIM KESEJAHTERAAN, RATUSAN TENAGA MEDIS DEMO