Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Di Angka Rp 400 Triliun

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Di Angka Rp 400 Triliun

Jakarta, Lawan.id – Pemerintahan Joko Widodo kembali mendapat sorotan, Tercatat, posisi utang pemerintah per akhir Januari 2018 mencapai Rp3.958,6 triliun atau hampir menembus Rp4.000 triliun. Dengan demikian, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 29,1%.

Pemerintah meyakinkan masyarakat untuk tidak khawatir terhadap utang Indonesia, meski semakin besar. Pasalnya, utang tersebut dikelola dengan transparan dan tidak boleh melebihi 60% produk domestik bruto (PDB). Kementerian Keuangan menyatakan, Indonesia masih mampu melunasi utang luar negerinya. Pelunasan utang itu bisa disesuaikan dengan anggaran.

Sedangkan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan utang luar negeri Indonesia masih dalam level yang aman. Terlebih menurut Darmin utang tersebut bukan hal konsumtif melainkan untuk untuk membangun infrastruktur. Nantinya, dari pembangunan itu akan menggerakkan ekonomi dan dapat membayar utang luar negeri.

Direktur Strategi dan Portfolio Utang Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Schneider Siahaan menjelaskan, pendapatan pemerintah dari pajak tahun ini ditargetkan Rp 1.800 triliun. Maka, bisa saja Rp 1.300 triliun di antaranya dibelanjakan, lalu Rp 500 triliun untuk mengangsur utang per tahun.

“Jadi, kalau ditanya kapan lunasnya, tergantung politikal. Kalau bisa bikin budget surplus Rp 500 triliun setahun kan bisa lunas dalam waktu delapan tahun atau dari Rp 1.800 yang dibelanjakan Rp 800 triliun, lalu Rp 1.000 triliunnya untuk bayar utang kan bisa lunas dalam waktu empat tahun,” tutur Schneider di Jakarta, Kamis, (15/3).

Nada khawatir justri terlontar dari pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Faisal Basri yakin pemerintah mampu membayar cicilan utang luar negeri. Namun Faisal mengatakan bahwa utang pemerintah itu tetap rawan karena bentuknya sebagian besar adalah obligasi.

“Sebagian besar utang Indonesia itu dalam bentuk obligasi. Sebanyak 50 persen obligasi itu dipegang asing,” katanya di salah satu restoran di Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Jumat, 16 Maret 2018.

Menurut Faisal banyaknya obligasi yang dipegang asing membuat kedaulatan pemerintah atas ekonominya berkurang. Indonesia disebut akan sangat terpengaruh oleh kondisi keuangan global.

Faisal mencontohkan salah satu situasi keuangan global yang baru-baru ini mempengaruhi keuangan Indonesia seperti rencana The FED menaikkan suku bunga lebih dari tiga kali dalam setahun. “Rupiah goyang, pasar saham goyang. Karena kedaulatan semakin dipegang pihak luar,” katanya.

Lebih lanjut menurut Faisal, walau pemerintah mampu membayar cicilan utang, hal itu akan mempengaruhi besaran persentase APBN untuk membayarnya. Faisal mengatakan beban APBN membayar hutang negara akan mengorbankan sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan.

“Uang untuk kesehatan dan pendidikan makin turun, kalau itu pendidikan dan kesehatan bisa ditunda pembayarannya. Kalau hutang ditunda bisa kena sanksi,” katanya.

Artikel ini diperoleh dari beberapa sumber :

Surat Terbuka Akhyar untuk Sri Mulyani soal Utang, Ini Isinya

Pemerintah Pede Masih Mampu Bayar Utang Luar Negeri

Tembus Rp 4.000 T, Faisal Basri Ingatkan Bahaya Utang Pemerintah